Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak

Film ini akhirnya tayang di bioskop Indonesia, walaupun kabarnya tidak semua kota-kota di Indonesia. Menurut saya, Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak adalah sebuah film yang menceritakan tentang perjuangan seorang perempuan. Adalah Marlina, seorang janda yang ditinggal mati oleh anak dan suaminya yang tinggal sendirian di rumah yang berada di tengah padang savana di Sumba.

Markus, pemimpin dari sekawanan perampok yang datang ke rumah merampas hewan ternak dan harga diri Marlina. Dalam upaya melindungi diri, Marlina membunuh kawanan perampok dari masakan makan malam yang dibuatnya dan memenggal kepala Markus dengan golok.

Awalnya saya bingung, siapa sosok yang sedang duduk di pojok ruangan dekat jendela itu. Ternyata itu adalah mayat suami Marlina yang ditutupi kain karena tidak mampu melakukan proses pemakaman yang layak. Miris.

Potongan kepala tersebut dibawa Marlina pergi ke kantor polisi dengan tujuan melaporkan kejadian yang menimpanya. Perjalanan yang penuh perjuangan karena transportasi yang tidak memadai disana.

Kawanan perampok yang masih hidup mendapati rekannya tewas segera mencari Marlina. Mengindari pengejaran, Marlina harus turun dari truk yang ditumpanginya dan melanjutkan perjalanan dengan kuda menuju kantor polisi.

Tiba di kantor, Marlina melaporkan kemalangan yang menimpanya. Petugas menanyainya beberapa pertanyaan sambil membuat laporan menggunakan mesik tik. Sayangnya, aparat tidak dapat menindaklanjuti laporan segera karena keterbatasan transportasi dan tenaga ahli yang dibutuhkan. Penggalan kehidupan nyata yang menyedihkan.

Novi, perempuan hamil besar kawan Marlina berhasil mencerminkan perempuan Sumba yang kuat dan tangguh. Ia juga melindungi Marlina dari kejaran para perompak dalam perjalanan ke kantor polisi.

Pengambilan gambar wide angle sangat bagus digunakan karena mampu mendeskripsikan keindahan alam di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Musik pengiring, logat bicara yang digunakan, serta busana yang dikenakan sukses membawa para penonton merasakan indahnya tanah Sumba. Dan saya pun ingin segera menjejakkan kaki dan melihat dengan mata kepala sendiri, sepenggal surga di Indonesia Timur itu.


16-nov-17

No comments:

Post a Comment