Thank you, Captain

senangnya,
schedule tiga hari kali ini bisa terbang bareng salah satu captain favorite,

alhamdulillah bisa tebang dengan captain Rafiqul Hamid dan aku in charge di depan,
captain itu ...

cerdas, full of experiences, dan suka sharing.
yang terakhir adalah bagian yang aku suka.
he is so inspiring.


captain bilang, "pekerjaan kita ini dinamis. makanya kita harus mampu menyesuaikan diri."
benar sekali, bertemu dengan orang-orang yang berbeda hampir di setiap schedule membuat aku sebagai awak penerbang harus mampu beradaptasi dengan lingkungan, dengan orang lain. bagaimana cara kerja, bersikap, cara berbicara, aaah semuanya lah. tapi tetap harus sesuai dengan SOP dong, and also be yourself is a must.

selesai breakfast, set crew bersantai sambil mendengarkan sharing dari captain Rafiq.
"kalian pernah ga mendapati penumpang sakit ketika flight? dulu aku pernah, bawa penumpang dari Denpasar tujuan ke Jakarta, ketika flight awak kabin senior mengatakan ada penumpang yang sakit jantung dan sudah diberikan oksigen. saat itu, pesawat berada di sekitar daerah Surabaya dan mencapai ketinggian 38.000 feet above sea level."

"apakah sudah diberikan obat [obat khusus untuk penderita penyakit jantung]? ada keluarganya tidak?" captain bertanya pada awak kabin senior.

"sudah capt, penumpang tersebut bepergian berdua bersama dengan istrinya." jawab awak kabin senior.

"ok, coba lakukan announcement, tanyakan kepada seluruh penumpang apakah terdapat dokter atau awak kesehatan di dalam penerbangan kali ini." captain memerintahkan.

setelah dilakukan announcement, beruntung terdapat dokter yang mampu memberikan pertolongan terhadap penumpang yang sakit. sesaat kemudian, captain memutuskan untuk menurunkan ketinggian ke 30.000 feet.

"coba, kenapa aku menuurnkan ketinggian?" tanya captain pada kami.
"karena adanya tekanan bukan capt? diturunkan agar tekanan tidak terlalu besar sehingga penumpang yang sakit tidak terlalu kesulitan bernapas." jawab ku.
"betul. sebagai captain, seseorang harus mampu berpikir cepat, tepat, dan bermanfaat. kenapa? karena sebagai seorang commanding, disaat genting seperti ini harus mampu memikirkan banyak hal. mulai dari keselamatan penumpang, apakah diperlukan pendaratan darurat di Surabaya, jika diperlukan apakah duty time masih mencukupi jika akan melanjutkan penerbangan kembali ke Jakarta. semuanya harus dipikirkan secara matang dan benar. karena menyakutkan nyawa seseorang, diri sendiri, dan banyak orang lain." captain menjelaskan.

setelah ketinggian pesawat diturunkan, keadaan pasien membaik, dan captain memutuskan untuk tetap melanjutkan penerbangan ke Jakarta dengan first priority landing and need medical assistance for pax after landing.

alhamdulillah semua berjalan lancar, pasien ditangani oleh pihak medis yang kompeten.

karena menjadi captain itu tidak hanya commanding pada regular condition, tetapi pada juga pada saat emergency situation. perlu ketenangan dan kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan.
itu yang aku dapat dari after-breakfast sharing kali ini.

thank you very much capt, see you again on board.
:)

No comments:

Post a Comment