Kepedulian Terhadap Autis


     Autisme adalah suatu kondisi mengenai seseorang sejak lahir ataupun saat masa balita, yang membuat dirinya tidak dapat membentuk hubungan sosial atau komunikasi yang normal. Akibatnya anak tersebut terisolasi dari manusia lain dan masuk dalam dunia repetitive, aktivitas dan minat yang obsesif. (Baron-Cohen, 1993). Menurut Power (1989) karakteristik anak dengan autisme adalah adanya 6 gangguan dalam bidang: 
  • interaksi sosial
  • komunikasi (bahasa dan bicara) 
  • perilaku-emosi 
  • pola bermain 
  • gangguan sensorik dan motorik 
  • perkembangan terlambat atau tidak normal

Autisme atau dikenal sebagai spektrum gangguan perkembangan yang mempengaruhi komunikasi dan keterampilan anak masih menjadi momok misterius di dunia medis. Jumlahnya bahkan kian melesat dalam lima tahun terakhir.



Faktor penyebab
Kampanye anti-vaksin sebelumnya mengklaim adanya hubungan autisme dengan vaksin MMR yang diberikan kepada anak usia 12-15 bulan. Namun, ini dibantah dengan argumen faktor lingkungan seperti paparan bahan kimia dan testosteron dalam rahim lah yang meningkatkan risiko autisme.

Sebuah studi terhadap 1,3 juta anak menemukan sebuah fakta menarik yang banyak berhubungan dengan kehidupan modern. Faktor usia orang tua yang semakin tua saat memutuskan memiliki anak ternyata juga mempengaruhi risiko autisme.

Studi menemukan bila salah satu orangtua berusia 35-39 tahun, risiko memiliki anak autis adalah sebesar 27 persen, terlepas dari apakah ayah atau ibu mereka yang berusia lebih tua. Risiko autisme lebih besar terjadi pada ibu berumur 35-40 tahun, yakni sebesar 65 persen, dibandingkan ayah sebesar 44 persen.

Deteksi dini
Lebih dini dideteksi, autisme bisa lebih cepat ditangani. American Academy of Pediatrics menyarankan agar melakukan pemeriksaan gejala autisme pada anak sejak usia 12 bulan dengan tes sederhana selama lima menit.

Teknik Rapid Attention Back and Forth Communication Test, atau disebut dengan Rapid ABC dapat menunjukkan keterlibatan dan komunikasi anak lewat kegiatan-kegiatan sederhana.

Gerakan berulang, kurangnya kontak mata, bisa dijadikan deteksi awal untuk segera melakukan tes lanjutan yang lebih komprehensif. Diagnosis lebih cepat dan pengobatan pada anak autis berdampak potensial untuk mengobati gangguan tersebut.


Hari Autis Sedunia
2 April 



Walaupun sampai saat ini belum ada satu jenis obat pun yang dapat menyembuhkan autisme, tetapi pengobatan dapat dilakukan dengan cara terapi. Tujuan pemberian terapi ini, agar anak lebih bisa fokus dalam satu hal dan bisa bersosialisasi dan berkomunikasi dengan baik. Sebagai orangtua, hal yang dapat dilakukan untuk membantu proses ini adalah dengan melakukan beberapa hal-hal berikut ini:
  • Sesering mungkin ajak bicara anak, dan bila anak mulai berpaling ketika diajak bicara, arahkan wajah mereka dengan lembut ke arah Anda agar mereka menatap mata Anda.
  • Gunakan alat bantu seperti buku cerita bergambar, anaeka mainan yang berwarna-warni, atau dengan alat peraga lain agar suasana pembicaraan lebih menyenangkan dan tidak membuat anak cepat bosan.
  • Sering-sering memancing anak untuk berkata-kata dan berkomunikasi dengan memberikan pertanyaan kepada anak.
  • Berikan pujian pada anak jika mereka mampu menjawab pertanyaan dengan benar dan selalu tunjukkan kasih sayang kepada mereka.
  • Bantu anak-anak untuk melakukan gerakan tubuh yang teratur, salah satunya dengan cara melatih seam dan Anda dapat membantu menggerakkan tubuhnya, tujuannya untuk memperbaiki gerak motorik pada anak.
  • Berikanlah makanan yang bergizi dengan nutrisi yang tepat. Anak autis biasanya tidak bisa menerima makanan yang mengandung casein (protein susu) dan gluten (protein tepung). Dan berikan makanan atau suplemen yang mengandung Omega-3 untuk membantu fungsi otak.


 


World Autism Awareness Day
April 2nd

mari sebarkan kepedulian terhadap autisme di Indonesia dan dunia ..!


No comments:

Post a Comment