Membandingkan Diri Tidak Akan Membuat Anda Lebih Baik

Bersyukur adalah salah satu cara paling ampuh untuk meringankan beban hidup. Dengan bersyukur, seorang manusia akan lebih bisa menghargai semua yang sudah didapatkan. Kalimat yang menyatakan bahwa manusia yang paling bahagia adalah mereka yang paling bisa mensyukuri semua yang sudah dimilikinya terbukti benar adanya.


1. Penampilan

Merasa diri kurang cantik, kurang tampan, atau kurang modis itu wajar. Merasa kurang percaya diri saat bersebelahan dengan teman yang pandai memulas wajah dan memilih pakaian modis juga normal. Tapi sebelum Anda merasa harus membandingkan diri dengan mereka, coba pikirkan hal ini di benakmu.

Bukankah bentuk wajah dan bentuk tubuh yang kita miliki adalah pemberian Tuhan yang masing-masing memiliki tujuan? Temanmu yang berkulit terang bisa saja diberi warna kulit semacam itu karena dia memang tidak suka naik gunung. Berbeda dengan Anda yang berkulit cokelat. Warna kulit yang eksotis lebih membuat Anda tahan menghadapi suhu ekstrem cuaca. Kalau kulit Anda putih, bisa jadi Anda harus merana karena sengatan sinar matahari membuatmu iritasi.

Penampilan yang ditunjukkan juga bentuk dari proses panjang pilihan pribadi seseorang. Gadis yang di matamu tampak girly bisa jadi memang hidup di lingkungan keluarga dan pertemanan yang menuntutnya untuk tampil “sangat wanita.” Dia yang nampak maskulin siapa tahu memang harus menyesuaikan diri dengan lingkungan kampusnya yang mayoritas pria.

Membandingkan penampilan sama saja dengan membandingkan jalan hidup yang dipilihkan Tuhan untukmu. Apakah Anda layak untuk melakukan itu?


2. Finansial

Dibutuhkan kemampuan untuk menghadapi kesuksesan finansial.
X: “Wow, si A sekarang kerja di perusahaan telekomunikasi terkenal. Gajinya 25 juta per bulan.”

Y: “Wuidih, banyak juga ya. Cuma beda 5 juta itu sama gaji gue.”

Me: (dalam hati) Gajinya Si A 25 juta, Si Y 20 juta. Lah gue, 10 juta aja gak sampe.
Mayoritas orang memang sering memandang kesuksesan finansial sebagai tolak ukur keberhasilan. Merasa kesuksesan selalu setara dengan gaji yang tinggi. Gaji besar yang bisa memfasilitasi sebuah kehidupan mapan memang menggiurkan. Tapi yakinkah Anda sudah cukup siap untuk mengelola uang yang tidak sedikit?

Sebelum menyalahkan keadaan yang terasa tidak adil untuk Anda, lebih baik lihat dulu berbagai perilaku yang sudah Anda lakukan selama ini. Masih kurang cerdik memanfaatkan kartu kredit dan uang tunai? Atau justru tidak pernah bisa menabung? Kalau jawabannya “Iya”, coba lihat apa yang bisa Anda dapatkan jika memilih menabung dan mulai mencoba berinvestasi serta berusaha sampingan.


3. Bahagia?

Selain menghubungkan uang dengan kesuksesan, banyak orang juga menghubungkan pencapaian materi dengan kebahagiaan. Merasa dengan memiliki banyak uang, maka kebahagiaan akan otomatis ada di tangan. Sebenarnya kita kerap lupa, ada hal-hal lain yang bisa membuat kita bahagia. Uang bukan satu-satunya sumber kebahagiaan. Uang hanya salah satunya.

Punya teman-teman menyenangkan, keluarga yang hangat, bisa bergabung dengan komunitas yang sesuai hobi, hingga masih diberi semangat dan kesehatan hingga hari ini adalah hal-hal kecil yang sering lupa disyukuri. Berbagai hal tersebut bahkan uang tak mampu beli, tapi masih jarang kita hargai.


4. Institusi Pendidikan

Institusi pendidikan bukan untuk dibandingkan. Stigma institusi pendidikan negeri vs swasta masih sering terdengar di masyarakat kita. Tidak sedikit yang merasa minder karena tidak diterima di universitas negeri atau sekolah milik pemerintah. Rasanya hidup selesai jika gagal mengikuti tes SNMPTN atau nilai UN tidak mencukupi untuk masuk ke institusi pendidikan negeri.

Daripada membandingkan pencapaian akademis Anda dengan teman-teman yang lain, lebih baik Anda fokus memberikan usaha terbaik untuk bisa menjadi yang terbaik di tempat Anda menimba ilmu. Kesuksesan masa depan tidak ditentukan dari di mana Anda sekolah, tapi lebih pada bagaimana konsistennya Anda untuk memberikan usaha tanpa kenal lelah.


5. Orang Tua

Sering Anda mengeluhkan perilaku orang tua yang dirasa kurang pas di hati. Mulai dari terlalu kolot, pelit, tidak demokratis, hingga kurang perhatian. Jika memungkinkan, rasanya ingin untuk bertukar orang tua dengan orang tua teman yang nampak lebih cool. Saat mengeluh seperti ini, Anda sering lupa bahwa orang tua bukanlah baju yang bisa dipilih sesuai selera dan ukuran.

Anda, pun kedua orang tua, tidak bisa saling memilih. Perbedaan pendapat jelas tidak bisa dihindari. Satu-satunya jalan agar konflik tak meledak adalah dengan terus berusaha untuk saling memahami.

Lagipula, di luar sana banyak anak-anak lain yang rela bertukar posisi dengan Anda untuk merasakan hangatnya kasih sayang orang tua.


6. Pernikahan

Di usia yang semakin dewasa, undangan pernikahan kawan jadi makin sering menyambangimu tiap akhir pekan. Pertanyaan semacam,

    “Kok sendirian?”

    “Kapan nyusul?”

    “Calonnya mana?”

juga semakin sering mampir ke telinga. Disadari atau tidak, pertanyaan macam itu membuat Anda merasa “dikejar” oleh tuntutan sekitar untuk segera mengambil langkah yang sama. Padahal, pernikahan bukan kompetisi. Siapa yang punya pacar lebih dulu atau siapa yang lebih dulu menikah tidak menandakan apapun.

Dia yang menikah lebih dulu tentu bisa bahagia dan sukses. Tapi bukan berarti orang yang masih jomblo sampai akhir umur 20-an akan merasa tidak bahagia dan tidak bisa memiliki kehidupan yang seimbang. Orang yang sudah menikah, belum menikah, berpacar, ataupun jomblo tetap punya kesempatan yang sama untuk merasakan hal-hal baik berdatangan dalam hidupnya.


7. Perjuangan

Setiap merasa hidup sedang tidak adil dan membuat Anda ingin membandingkan diri dengan orang lain, ingatlah bahwa semua hal yang orang lain dapatkan tidak didapat dari ongkang-ongkang kaki semata. Teman Anda yang juara Olimpiade Matematika itu belajar keras hingga dini hari, sementara Anda sedang terlelap tidur. Dia yang penghasilannya dua kali lipat dibanding Anda juga menjalankan bisnis sampingan sepulang kantor.

Sebelum mengeluh dan membandingkan ketidak beruntungan Anda dengan orang lain, ada baiknya Anda terlebih dahulu mengevaluasi perilaku. Karena selalu ada perjuangan besar di balik hasil yang membanggakan.


8. Merasa Lebih Baik?

Membandingkan diri tidak akan membuatmu merasa lebih baik dan justru tidak mensyukuri apa yang sudah Anda dapatkan. Keinginan untuk terus membandingkan diri bisa menimbulkan rasa tidak puas, kecewa, hingga menyalahkan diri sendiri. Jika tidak berhati-hati, hal ini tidak baik untuk semangat Anda.

Daripada membandingkan penampilan, pencapaian, dan kondisi lain dalam diri Anda, sebenarnya masih banyak hal lain yang lebih penting untuk Anda bandingkan. Bagaimana jika mulai sekarang Anda lebih cerdik membuka mata terhadap perbandingan yang lebih bermanfaat?


Jadi manusia yang mudah bersyukur atas segala pencapaian ataupun tidak, semua kembali ke pilihan pribadi Anda. Setiap manusia selalu mempunyai pilihan untuk berterima kasih atau merasa acuh tak acuh atas segala kebaikan yang telah Tuhan berikan untuk Anda.



lihat artikel aseli disini

No comments:

Post a Comment