Kau Angin

semula aku sangka kau gelombang
tapi setiap kali aku renangi
engkau menggasing bagai angin


peluh membuncah dan ruh dan tubuh gelisah
adalah ibadah bagi cinta tak berjamah
disitu, ku nikmatkan teduhmu
sesekali sebelum kau berhembus pergi
 

aku buru suara seruling di jauhan
yang kutemukan dedahan bergesekan


aku termangu tertipu gerakmu
sehening batu di kedalaman rinduku

 
kini aku tahu, tak perlu memburumu
engkau hidup di dalam dan di luar diriku
tak berjarak namun teramat jauh
teramat dekat namun tak tersentuh
 

jika benar engkaulah angin itu
semauku akan kuhirup kamu
dalam jantung yang berdegup

 
engkau gairah baru bagi hidup
mengalirlah darah, 
mengalir dalam urat nadi cintaku
karenamu, Kekasihku.

— Sitok Srengenge


No comments:

Post a Comment