Air Mata Kecewa

ketika langit mulai menangis saat rembulan masih terjaga ,
terus menagis tersedu hingga rembulan tertidur kelelahan ,
berganti dengan sahut menyahut suara bising kuda besi ,
teriakan klakson yang memekakkan telinga ,
dan riuh rendah ocehan manusia pejalan kaki .


tahunan .
ada yang bilang petaka ini pasti terjadi dalam jangak waktu nya ,
tragis !
di kala sang manusia merasa terlalu agung ,
untuk mengatakan bahwa petaka itu kini datang . 



mentari merajuk dengan tangisan awan yang tiada henti ,
tak mau singgah ke singgasananya yang agung .
membuat kelabu hari ini ,
temaram ,
langit dan awan kembali bermuram durja .


air mata sang langit terus ada ,
menetes ,
merembes ,
hingga akhirnya membanjiri lantai hitam kami ,
si karpet merah bagi besi beroda yang bergerak cepat ini ..
tinggi ,
semakin naik .


tangis sedu sedan itu sudah sirna ,
sekarang burung mulai berani berkicau riang ,
angin sepoi meniupkan udara surgawi ,
awan hitam beralih pergi ...


kini ,
lantai hitam kami sirna ,
tak nampak oleh penglihatan ,
raib dari pandangan ketinggian...
yang ada hanya genangan cokelat kotor ,
bergerak kian kemari mengikuti gerakan karet bundar yang terus melaju tiada henti .


orang bilang tanah kita tanah surga .
apakah memang benar adanya ?
rasanya kini tiada lagi ...


hamparan pohon hijau yang mereka bilang paru paru dunia kini telah tewas .
bunga warna warni yang mempercantik jantung kota kami telah layu sirna .
hilang ,
tanpa bekas . 


sekarang yang ada ,
hanya air mata kecewa
dari langit yang sakit hati pada bumi ,
atas rusaknya semesta .
kotor ,
banyak ,
besar ,
meluap .


air mata tak terelakkan itu terus berkelana mencari muara tempat kekecewaannya belabuh .
alangkah lucunya negeri ini ,
bahkan air mata kekecewaan ini pun salah memilih arah ,
malah bermuara ke sini ,
ke lantai hitam kami ..
menyelimuti gagahnya jantung kota kami ,
membuat lumpuh kehidupan kami sesaat .



Djakarta, 
toejoeh belas janoeari dua ribu tiga belas


No comments:

Post a Comment