Batik Kabupaten Cirebon

Budaya masyarakat Cirebon sebagai wilayah pesisiran memiliki banyak pengaruh dari budaya luar. Dalam corak batik Cirebon, sering dijumpai konsepsi budaya seni Hindu dan Cina yang memaparkan konsep alamiah, makro kosmos yaitu adanya kehadiran alamatas (langit), alam tengah (makhluk; flora dan fauna), dan alam bawah (semesta). Konsep ini diadaptasi oleh para pengrajin batik sebagai landasan filosofis dalam berkarya. Ciri khas yang paling menonjol dari batik Cirebon adalah batik tersebut merupakan "lukisan" yang menggambarkan lasekap alam setempat, penggambaran unsur-unsur alam dijumpai pada batik Taman Arum Sunyaragi, Taman Teratai, Naga Seba, dan Ayam Gunung Jati yang menggambarkan penyebaran agama Islam oleh Sunan Gunung Jati. Batik Cirebon kuno memiliki garis yang tebal dan kuan dan dikerjakan oleh kaum pria.




Paksi Naga Liman
Hingga kini Cirebon terkenal karena memiliki pola dan corak istimewa yang tidak dijumpai dalam perbendaharaan batik di daerah penghasil batik lainnya di Indonesia. Tedapat beberapa motif yang menggambarkan lambang, seperti motif Macan Putih yang dipengaruhi oleh Islam dengan mengambil bentuk Singa Parsi. Motif lain yang populer adalah Paksi Naga Liman yang menggambarkan binatang mistis yang terdiri dari berbagai unsur kebudayaan. Paksi adalah buruh Phoenix lambang kerajaan, Naga adalah ular yang memberi hidup, sedangkan Liman adalah gajah yang menggambarkan kekuatan dan kecerdikan seperti Ganesha dalam mitologi Hindu. Corak lain yang menggambarkan gabungan beberapa binatang adalah SInga Barong yang terdiri dari singa bersayap dari Parsi, dan Bouraq, burung Roc dalam cerita seribu satu malam, burung mistis dalam cerita rakyat Islam. Motif ini menjadi lambang kerjasama yang damai antara kebudayaan Islam, Persia, Cina, dan Hindu yaitu menggambarkan ekspresi nyata berbagai kebudayaan yang hidup bersama secara selaras, membaur seperti yang terjadi di dalam masyarakat di pantai utara Jawa.


No comments:

Post a Comment